Nurul Priyantari1, Agus Suprianto1, Supeno2
1 Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Jember
2 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP, Universitas Jember
Abstrak
Peristiwa banjir bandang dan tanah longsor di kabupaten Jember pada awal tahun 2006 melanda 7 kecamatan dengan daerah yang paling parah terkena banjir adalah Kecamatan Panti. Peristiwa banjir bandang yang terjadi di kecamatan Panti kabupaten Jember tersebut diprediksi akibat dari kerusakan hutan di Pegunungan Argopuro yang terletak di bagian utara Jember. Berangkat dari fenomena tersebut maka dilakukan survei untuk melihat profil muka bumi dan sebaran pemukiman penduduk di kecamatan Panti Kabupaten Jember pasca bencana banjir tersebut. Hasil survei menunjukkan bahwa topografi daerah Panti kabupaten Jember bervariasi mulai dari ketinggian 50 hingga 1.340 m dari permukaan laut dengan keadaan kemiringan adalah semakin ke arah selatan kondisi relief permukaannya semakin landai. Sebagian besar sebaran pemukiman penduduk berada di dataran rendah dengan ketinggian 50 m hingga 140 m dari permukaan laut dan sebagian kecil lainnya berada pada ketinggian di atas 140 m dari permukaan laut dengan kondisi kemiringan lereng yang relatif curam. Sebaran penduduk pada ketinggian di atas 700 m semakin jarang dan hal ini tampak dari sebaran pada peta, dan umumnya berada diantara lereng dengan kemiringan di atas 200. Kebutuhan air di peroleh dari sumber mata air terdekat dengan sebagian besar warga mengandalkan kebutuhan air dari sumber yang dialirkan lewat pipa-pipa.
PENDAHULUAN
Peristiwa banjir bandang dan tanah longsor di kabupaten Jember pada awal tahun 2006 melanda 7 kecamatan dengan daerah yang paling parah terkena banjir adalah Kecamatan Panti. Kawasan yang terkena bencana meliputi Desa Kemiri, Desa Suci dan Desa Serut. Desa Kemiri dan Suci merupakan areal terparah yang terlanda banjir sementara Desa Serut hanya sebagian kecil namun desa ini merupakan tempat mengungsi masyarakat dari Desa Suci dan Kemiri. Dari data BPS Kabupaten Jember bencana banjir bandang yang terjadi 2 Januari 2006 mengakibatkan 76 orang meninggal dunia, 15 orang hilang, 1.900 orang mengungsi dan 36 rumah hanyut, 2.400 rumah rusak, 6 jembatan putus serta 140 ha sawah rusak.
Peristiwa banjir bandang yang terjadi di kecamatan Panti kabupaten Jember tersebut diprediksi akibat dari kerusakan hutan di Pegunungan Argopuro yang terletak di bagian utara Jember. Hutan sebagai pelindung banyak yang ditebang sehingga gundul. Hal ini dapat dilihat dari longsoran tanah bercampur air hujan menerjang dan yang membawa balok-balok kayu. Balok-balok kayu terbawa banjir dominan dari Pohon Jati, Pinus, Mahoni yang merupakan ciri dari hasil hutan produksi. Peristiwa ini merupakan kesalahan dari penataan ruang wilayah di Jawa Timur. Pegunungan Argopuro sebagai kawasan lindung yang merupakan daerah resapan air, beralih menjadi perkebunan kakao dan kopi, serta hutan produksi kemudian terjadi penebangan yang berakibat penggundulan.
Berdasarkan data geologi, Gunung Argopuro dibentuk oleh endapan gunung api kuarter tua, yaitu sekitar dua juta tahun yang lalu. Karena tua, lahan telah mengalami pelapukan dan berubah menjadi tanah. Tanah hasil pelapukan batuan kuarter tua itu ketebalannya mencapai 5 meter. Kondisi inilah yang disebut geologi tebal dan mudah terjadi longsor. Hal tersebut pernah menjadi penyebab longsor, diantaranya di Desa Kemuninglor, Kecamatan Arjasa, Jember pada tahun 2001. Pada tahun 2002 di Situbondo dan Bondowoso. Satu tahun kemudian terjadi di Pacet, sedangkan tahun 2006 terjadi di Argopuro dan Banjarnegara.
Setelah beberapa tahun berlalu, kehidupan masyarakat di kecamatan Panti saat ini telah berjalan normal kembali. Sisa-sisa kerusakan sudah tidak terlihat lagi dan hanya bongkahan-bongkahan batu yang berasal dari pegunungan yang terhampar di badan sungai yang terbawa saat terjadi banjir tersebut. Sungai yang melebar akibat gerusan banjir saat ini telah berubah fungsi menjadi sawah sawah. Pemanfaatan lahan ini hanya dikala kemarau hingga awal musim penghujan tiba. Pada saat puncak musim penghujan banjir-banjir kecil datang dan menutupi lahan itu kembali sehingga apabila masih ada sawah otomatis akan rusak diterjang banjir. Rumah-rumah masyarakat di kawasan ini sebagian besar dibangun di pinggir sungai. Kondisi ini pada satu sisi memang menguntungkan terutama untuk akses sumber air. Sebaliknya kondisi ini adalah kerentanan masyarakat yang berisiko terkena dampak di saat terjadi banjir bandang. Selain itu kemungkinan longsor akibat gerusan air di tebing-tebing sepanjang sungai dapat terjadi, akhirnya rumah-rumah warga bisa ambrol ke sungai.
Musibah tersebut haruslah menjadi momentum untuk berbenah dalam hal pengelolaan lingkungan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Berangkat dari fenomena tersebut maka dilakukan survei untuk melihat profil muka bumi dan sebaran pemukiman penduduk di kecamatan Panti Kabupaten Jember pasca bencana banjir tersebut. Hasil yang diperoleh dari survei ini nantinya dapat digunakan untuk pembuatan dan perancangan peta informasi tentang pemanfaatan lahan di kecamatan Panti Kabupaten Jember pasca bencana banjir yang dapat dimanfaat untuk pengelolaan lingkungan.
TINJAUAN PUSTAKA
Kondisi Geografi
Bagian selatan wilayah Kabupaten Jember adalah dataran rendah. Bagian barat laut berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo adalah pegunungan yang merupakan bagian dari Pegunungan Iyang, dengan puncaknya adalah Gunung Argopuro yang memiliki ketingian 3.088 m dari permukan laut. Bagian timur merupakan bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Ijen. Kecamatan Panti mempunyai luas wilayah 160,71 km2 dengan ketinggian rata-rata 71 m dari atas permukaan laut. Kecamatan Panti terdiri dari 7 desa yaitu Kemuningsari Lor, Glagahwero, Serut, Panti, Pakis, Suci dan Kemiri. Batas Kecamatan Panti yaitu sebelah Utara Kecamatan Bondowoso, sebelah Timur Kecamatan Sukorambi, sebelah selatan Kecamatan Rambipuji dan sebelah barat Kecamatan Bangsalsari. Jumlah penduduk Kecamatan Panti pada tahun 2005 sebanyak 56.419 jiwa terdiri dari 27.599 jiwa laki-laki dan 28.820 jiwa perempuan.
Kondisi Geologi
Secara morfologi, Kecamatan Panti merupakan daerah perbukitan sebelah selatan-tenggara G. Argopuro dengan ketinggian melandai dari 50 sampai 500 m di atas permukaan laut, dengan tatanan stratigrafi Breksi Argopuro (Qvab) dan Endapan Kipas Argopuro (Qaf) (Sapei, et. al., 1992). Breksi Argopuro merupakan breksi gunung api bersusunan andesit dan bersisipan lava. Breksi andesit berwarna abu-abu dengan masadasar tuf. Sisipan lava terdapat setempat, bersusunan andesit. Satuan ini merupakan hasil kegiatan G. Argopuro yang terakhir. Batuannya sudah sangat lapuk sehingga membentuk laterit yang cukup tebal berwarna merah bata. Endapan Kipas Argopuro (Qaf) merupakan endapan kipas hasil rombakan dari batuan gunungapi Argopuro. Komponen berukuran bongkah, kerakal dan kerikil.
Kondisi Vegetasi
Keadaan vegetasi penutup lahan merupakan faktor penting dan dominan dalam rangka menekan laju erosi, banjir dan longsor selain faktor-faktor yang lainnya seperti curah hujan, penggunaan lahan, karakteristik wilayah (morfologi, baik kelerengan dan bentuk lanskap) dan keadaan drainase. Semakin tinggi kerapatan suatu vegetasi pada suatu lahan maka lahan tersebut semakin terjaga dari erosi, banjir dan longsor.
Alam sebenarnya telah memberikan pelajaran dan contoh yang mestinya menjadi rujukan bagi terbentuknya keseimbangan lingkungan. Salah satu dari sekian banyak contoh adalah peranan vegetasi dalam mengatur kran keseimbangan air sepanjang tahun. Penutupan vegetasi alam memainkan peranan penting dalam mengatur perilaku sistem drainase air. Terutama efek spon yang menyekap air hujan dan air itu ditahan oleh hutan dan padang rumput sehingga mengalir keluar lebih lambat dan merata ke dalam sistem sungai, mengurangi kecenderungan banjir pada periode musim hujan dan melepaskan air terus menerus selama periode musim kemarau. Fungsi ini akan hilang apabila vegetasi kawasan tangkapan air di dataran tinggi menjadi rusak.
Mekanisme Tanah Longsor
Tanah longsor merupakan salah satu bentuk gerakan tanah. Gerakan tanah adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan timbunan tanah atau material campuran tersebut, bergerak ke arah bawah dan keluar lereng (Vernes, 1978 dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No. 1452 K/10MEM/2000). Sedangkan menurut Pangluar dan Suroso (1985), gerakan tanah atau tanah longsor adalah perpindahan massa tanah atau batu pada arah tegak, mendatar atau miring dari kedudukannya semula. Zona kerentanan tanah adalah suatu daerah atau areal yang mempunyai derajat kerentanan relatif (relative susceptibility) untuk terjadi gerakan tanah.
Terjadinya gerakan tanah selama ini diakibatkan oleh gangguan tertentu. Peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya gerakan tanah dibedakan menjadi gangguan luar dan gangguan dalam (Pangluar dan Suroso, 1985). Gangguan dari luar yang dapat mengakibatkan terjadinya gerakan tanah ada beberapa hal, yaitu getaran yang banyak ditimbulkan oleh gempa bumi, pembebanan tambahan yang umumnya disebabkan oleh ulah manusia seperti pembangunan rumah di tepi sungai atau di daerah timbunan, hilangnya peneguhan dari samping, dan tidak adanya tumbuhan penutup akibat ditebangi. Gangguan dari dalam yang dapat menyebabkan terjadinya gerakan tanah ada beberapa hal, yaitu hilangnya permukaan karena selaput air yang terdapat diantara butir-butir tanah memberikan tegangan tarik yang tidak kecil, penambahan bobot massa batuan karena air yang masuk ke dalam tanah akan mengisi rongga-rongga diantara butir yang membentuk batuan, pelindihan bahan perekat, naiknya muka hidrostatika karena rembesan air yang masuk pada sela-sela antara butir tanah, pengembangan tanah karena rembesan air terutama untuk tanah jenis lempung, dan proses pencairan sendiri.
Terdapat beberapa jenis tanah yang mempunyai sifat khusus dan dapat mempengaruhi kemantapan lereng diantaranya adalah tanah residual yang merupakan hasil pelapukan batuan dasar akibat proses kimia, fisika dan biologi, lempung ekspansif yang mengandung mineral montmorillonit dalam persentase tinggi, tanah koluvial yaitu material yang terjadi karena pengendapan massa batuan yang bergerak turun dari lereng, lempung dispersif yang mudah tererosi. Cara pengenalan jenis tanah ini dilakukan uji “pin hole”, hydrometer ganda dan kimia (Pangluar dan Suroso, 1985).
Faktor yang membentuk potensi longsor antara lain geometri permukaan tanah, tekstur dan struktur tanah, struktur geologi, curah hujan (iklim), aktivitas manusia. Lahan berupa lereng memiliki komponen gaya berat yang bisa menggerakkan massa tanah ke arah lateral. Makin curam dan makin tinggi suatu lereng, makin besar pula gaya penggerak tersebut. Lereng atau lahan dengan kemiringan melampaui 20 derajat (40%), umumnya berbakat untuk longsor. Tanah tekstur halus dan struktur gembur/lepas memiliki tahanan yang lemah terhadap gerakan geseran. Contoh, lempung atau lanau lebih mudah untuk bergerak. Sebaliknya tanah bertekstur kasar dan bertekstur kompak memiliki tahanan yang kuat terhadap gerakan geseran. Contoh breksi lebih resisten terhadap geseran. Begitu juga lereng dengan struktur batuan berlapis miring searah dengan kemiringan lereng dan lapis tanah yang bertumpu pada batuan kompak kedap air mudah terjadi longsor.
Keterdapatan struktur geologi baik berupa kekar maupun sesar pada batuan menyebabkan batuan menjadi tidak masif sehingga menjadi lemah. Pada umumnya lereng mudah mengalami pergerakan karena adanya bidang kekar, sesar maupun perlapisan batuan yang miring searah dengan kemiringan lereng serta kemiringan lereng lebih curam daripada kemiringan bidang tersebut dan lebih besar dari sudut gesekan dalam pada bidang tersebut. Intensitas kekar atau sesar juga berpengaruh terhadap kestabilan batuan. Semakin jarang intensitas kekar atau sesar semakin stabil batuannya.
Hujan merupakan faktor pemicu gerakan tanah yang sangat penting. Di Indonesia seringkali gerakan tanah terjadi pada musim hujan. Pada saat kemarau, apalagi kemarau panjang, terjadi rekahan-rekahan pada permukaan tanah. Pada saat musim hujan tiba rekahan-rekahan tersebut merupakan tempat yang bagus bagi meresapnya air ke dalam tanah sehingga beban massa tanah bertambah. Pada dasarnya ada dua tipe hujan pemicu longsor, yaitu hujan deras yang mencapai 70 mm hingga 100 mm per hari. (Brand, 1984, Heath dan Sarosa, 1988 dalam Anwar, 2003) dan hujan kurang deras tapi berlangsung menerus selama beberapa jam hingga beberapa hari yang kemudian disusul hujan deras sesaat (Karnawati dalam Anwar, 2003). Hampir semua kejadian gerakan tanah terjadi di masa lampau umumnya setelah hujan turun selama beberapa jam hingga beberapa hari yang kemudian disusul hujan deras sesaat (kurang lebih 1 hingga 2 jam)
Aktivitas manusia biasanya sangat berperan dalam mempercepat terjadinya peristiwa tanah longsor. Peristiwa tanah longsor tetap terjadi sebagai upaya alam membentuk kesetimbangan. Umumnya peristiwa longsoran yang alami mempunyai siklus yang panjang ratusan atau ribuan tahun dan sifatnya lebih terkontrol baik kuantitas material maupun kecepatannya. Peristiwa longsor alami itu terjadi ketika tanah di puncak sudah sangat tebal sehingga gaya penahannya terlampaui. Namun akibat aktivitas manusia, jangka waktu terjadinya tanah longsor menjadi lebih pendek, tidak terkontrol dan destruktif. Aktivitas manusia itu antara lain berupa penebangan hutan atau pembukaan lahan pada daerah dengan lereng relatif terjal, pembuatan kolam, sawah di atas tebing terjal dengan tanah cukup tebal yang memungkinkan air merembes ke dalam lereng.
Kejadian banjir ini dapat diprediksi berdasarkan pada karakter curah hujan dalam setahun dan karakter DAS. Secara kasar dapat dikatakan bahwa banjir ini akan terjadi di musim hujan. Cepatnya kedatangan dan lamanya genangan dapat diprediksi dari karakter DAS dan sejarah banjir yang pernah terjadi. Dalam rangka memprediksi kejadian banjir ini, informasi prediksi curah hujan dari BMG perlu diperhatikan. Lamanya banjir ditentukan oleh tingginya curah hujan dan lamanya hujan, serta karakter cekungan DAS. Karakter DAS menentukan lamanya genangan banjir. Areal yang tergenang oleh banjir ini adalah dataran banjir di sekitar muara sungai. Luasnya areal genangan ditentukan oleh karakter aliran sungai atau luas dataran banjirnya dan besarnya debit banjir. Selain itu, untuk daerah-daerah dekat pantai, kondisi pasang-surut yang ada pada waktu banjir terjadi mempengaruhi hebatnya banjir ini.
METODE PENELITIAN
Survei dilakukan terhadap kondisi geografi. Posisi titik-titik pengamatan dan batas-batas pemanfaatan wilayah ditentukan menggunakan Global Positioning System (GPS). Pemetaan topografi dilakukan dengan menggunakan seperangkat theodolit dan altimeter. Kontur topografi yang diperoleh digunakan untuk perencanaan ke depan terhadap hidrologi, kemiringan lereng dan penggunaan lahan. Berdasarkan survey dan pengamatan di lapangan diperoleh berbagai data untuk menggambarkan sebaran pemukiman di daerah survei.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan dan pengukuran morfologi diperoleh data berupa posisi dalam koordinat X dan Y serta elevasi. Dari data ini kemudian dibuat peta kontur baik dalam 2 dimensi maupun 3 dimensi seperti pada gambar 1 dan gambar 2. Peta topografi ini diperlukan untuk melihat bentang alam dalam skala miniatur yang dipakai sebagai dasar untuk melihat pola sebaran tata guna lahan seperti pemukiman dan hutan, pola aliran sungai, limpasan aliran permukaan, kelongsoran, dan sejenisnya. Pengamatan dan pengukurannya menggunakan alat bantu GPS, altimeter serta theodolite. Berdasarkan keadaan topografi (gambar 1) nampak bahwa elevasi daerah Panti bervariasi mulai dari ketinggian 50 hingga 1.340 m dari permukaan laut dengan keadaan kemiringan adalah semakin ke arah selatan kondisi relief permukaan semakin landai.

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
Gambar 1. Topografi kecamatan Panti dalam peta citra ketinggian 2 dimensi.

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
Gambar 2. Topografi kecamatan Panti dalam peta citra ketinggian 3 dimensi.
Dari beberapa data yang telah diperoleh terutama data topografi sebagaimana diuraikan sebelumnya selanjutnya dapat dibuat peta hubungan antara sebaran pemukiman dengan geografi dan ditunjukkan pada gambar 3.

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
Gambar 3. Keadaan topografi dan sebaran pemukiman.
Sebaran pemukiman dengan elevasi di atas 690 m seluas 0.424 km2, antara 250-690 m seluas 2.497 km2 , dan pemukiman dengan elevasi di bawah 250 m seluas 5.768 km2. Dari data luas sebaran pemukiman terhadap elevasi topografi, sebaran pemukiman semakin berkurang dengan semakin meningkatnya elevasi topografi. Salah satu syarat atau pertimbangan dalam pemilihan tempat tinggal adalah ketersediaan akuifer. Dari peta potensi akuifer di Kecamatan Panti dan persebaran pemukiman, sebaran pemukiman berkaitan dengan potensi produktivitas akuifer, pada daerah dengan tingkat produktivitas tinggi juga sebaran pemukimannya juga tinggi sedangkan pada daerah dengan tingkat produktivitas akuifer rendah, tingkat persebaran pemukimannya juga kecil. Kebutuhan air warga selama ini diperoleh dari sumber mata air terdekat dengan sebagian besar warga mengandalkan kebutuhan air dari sumber yang dialirkan lewat pipa-pipa. Kondisi produktivitas akuifer dan sebaran pemukiman di Kecamatan Panti ini diperlihatkan pada gambar 4.
<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
Gambar 4. Produktivitas akuifer dan sebaran pemukiman di Kecamatan Panti.
KESIMPULAN DAN SARAN
Topografi daerah Panti kabupaten Jember adalah bervariasi mulai dari ketinggian 50 hingga 1.340 m dari permukaan laut dengan keadaan kemiringan adalah semakin ke arah selatan kondisi relief permukaannya semakin landai. Sebagian besar sebaran pemukiman penduduk berada di dataran rendah dengan ketinggian 50 m hingga 140 m dari permukaan laut dan sebagian kecil lainnya berada pada ketinggian di atas 140 m dari permukaan laut dengan kondisi kemiringan lereng yang relatif curam. Sebaran penduduk pada ketinggian di atas 700 m semakin jarang dan hal ini tampak dari sebaran pada peta, dan umumnya berada diantara lereng dengan kemiringan di atas 200. Kebutuhan air di peroleh dari sumber mata air terdekat dengan sebagian besar warga mengandalkan kebutuhan air dari sumber yang dialirkan lewat pipa-pipa.
Secara umum tata guna lahan di Kecamatan Panti seperti halnya kebanyakan daerah-daerah di Indonesia berkembang secara tradisional yang dipengaruhi oleh kondisi geografi. Kendala geografi seperti halnya morfologi dan potensi akuifer berpengaruh terhadap persebaran atau tata guna lahan di daerah ini. Kondisi geografi juga berpengaruh terhadap potensi bencana yang terjadi, akan tetapi potensi bencana yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi morfologi dalam kaitannya dengan kemiringan lereng, akan tatapi diduga juga berkaitan dengan kondisi maupun formasi lapisan bawah permukaan. Untuk mengetahui kondisi bawah permukaan, diperlukan serangkaian metode penelitian menggunakan teknik pencitraan geofisika bawah permukaan. Melalui gabungan data permukaan dan data pencitraan bawah permukaan diharapkan akan diperoleh gambaran dinamika bawah permukaan dengan lebih komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, H. Z., 2003, Pengantar Bencana Alam Gerakan Tanah, Diklat Mitigasi Bencana Gerakan Tanah, Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Karangsambung.
Pangluar D. dan Suroso, D., 1985, Petunjuk Penyelidikan dan Penanggulangan Gerakan Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum, Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
Sapei, et.al., 1992, Geologi Lembar Jember, Jawa. Bandung: Pusat Penelitian Dan Pengembangan Geologi.
Varnes, D.J., 1978, Landslide Types and Processes, Landslide and Engineering Practice, E.B. Eckel. Ed., High Way Research Board Spec. Report No. 29, Washington D.C.